2009/07/21

SIMPOSIUM NASIONAL BEM FMIPA


Departemen Lingkungan BEM FMIPA UI Bekerja Sama Dengan ILUNI FMIPAUI & FT UI

mempersembahkan untuk bangsa ini demi menuju Lingkungan Indonesia yang lebih baik dengan sebuah…
“SIMPOSIUM NASIONAL”
23 -26 Juli 2009 di FMIPA UI & Balai Sidang UI Depok

“Saatnya Seluruh Anak Bangsa Peduli, Cerdas, Bergerak, selamatkan lingkungan Indonesia”

Simposium Nasional merupakan acara yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA UI sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan di Indonesia. Acara berlangsung pada tanggal 23-26 Juli 2009. Tema yang akan diangkat adalah tentang pencemaran limbah, kerusakan hutan, dan krisis energi. Berbagai bentuk acara yang akan diadakan antara lain :
1. Konferensi Lingkungan Tingkat Nasional

Pemaparan dan pencarian solusi permasalahan lingkungan yang terjadi di Indonesia, dengan mengangkat tiga isu utama yaitu pencemaran limbah, kerusakan hutan, dan krisis energi.

syarat untuk menjadi peserta konferensi dapat diliat di info konferensi
2. Pena Lingkungan

Pena lingkungan berisikan berbagai lomba jurnalistik, seperti :

* Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), yang dapat diikuti oleh mahasiswa sarjana atau diploma.
* Essay, yang dapat diikuti oleh pelajar SMA atau sederajat .
* Cerpen, yang dapat diikuti oleh siswa/siswi SMP atau sederajat.
* Poster, yang dapat diikuti oleh pelajar SD atau sederajat.
* Fotografi, yang dapat diikuti oleh masyarakat umum
* Film Dokumenter, yang dapat diikuti oleh masyarakat umum.

3. Talk Show

Bincang santai dengan tokoh-tokoh nasional peduli lingkungan, LSM, dan masyarakat umum
4. Pelatihan

Pelatihan langsung proses daur ulang sampah, pembuatan kompos, dan pelatihan lainnya.
5. Bazaar dan Expo Lingkungan

Penampilan profile tentang isu-isu lingkungan Negara Indonesia tercinta yang menampilkan produk hasil riset-riset dari beberapa LSM yang mengkaji tentang lingkungan hidup.

Contact Person : Dian (085284512030), Arief (085691361890),

PUSGIWA BEM FMIPA UI 021-7270454

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ide-Qu

HADIAH TERINDAH SEORANG AKTIFIS

10 Juli jam 17:42

Ringkih dan renta karena ditelan usia, namun tampak
tegar dan bahagia. Ikhlas, memancarkan selaksa cinta
penuh makna yang membias dari guratan keriput di
wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian,
hingga sekarang mahkota putih tampak anggun
menghiasinya. Dekapannya pun tak berubah, luruh
memberikan kenyamanan dan kehangatan.

Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih
menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan
do'a-do'a. Kaki tampak payah, tak mampu menopang
tubuhnya. Telapak tempat surga itu pun penuh bekas
darah bernanah, simbol perjuangan menapak sulitnya
kehidupan.

Ibunda...
Adakah saat ini kita terenyuh mengenangkannya? Ia
adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap
manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak
putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi.
Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9
bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang
sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan Allah
Subhanahu wa Ta'ala.

Polesannya adalah warna dasar pada diri kita.
Menggores sebuah kanvas putih nan suci, hingga
tercipta lukisan Yahudi, Musyrik atau Nasrani. Namun,
goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur'an,
zikir, tasbih serta tahmid, tentu akan melahirkan
syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa.
Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara Allah)
dari sebuah madrasah keluarga.

Selaksa cinta ibunda yang dibaluri tsaqofah Islamiyah
(wawasan keislaman) telah menyemai banyak pahlawan
Islam. Teladan Asma' binti Abu Bakar Ash-Shidiq
melahirkan pahlawan Abdullah bin Zubair, yang dengan
cintanya masih berdoa agar dirinya tidak mati sebelum
mengurus jenazah anaknya yang disalib Hajaj bin Yusuf,
antek Bani Umaiyah. Polesan warna seorang ibunda, Al
Khansa, melahirkan putra-putra kebanggaan Islam yang
berani dan luhur akhlaqnya, hingga satu persatu syahid
pada perang Qodisyiah. Di sela kesedihannya, ibunda
masih berucap, "Alhamdulillah... Allah telah
mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan
kematian anak-anakku sebagai syuhada. Aku berharap
semoga Allah mengumpulkan aku dengan mereka dalam
rahmat-Nya kelak."

Banyak... sungguh teramat banyak cinta ibunda yang
melahirkan kisah-kisah teladan. Yatim seorang anak pun
tidaklah menghalangi ibunda untuk merangkai sejarah
dengan tinta emas, terbukti dengan mekar harumnya para
mujtahid Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Ahmad
bin Hambal serta Imam Bukhari. Didikan ibunda mereka
telah mampu mendidiknya hingga menjadi anak-anak yang
gemar menuntut ilmu tanpa kenal lelah, bahkan mandiri
dalam kemiskinan.

Kita mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan
biasa. Bahkan kita pun tidak dilahirkan untuk menjadi
seorang pahlawan. Namun, ibunda kita dan mereka adalah
sama, sebuah anugerah terindah dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala.